Yayasan Palung Adakan Pelatihan dan Peningkatan Kapasitas untuk LPHD Binaan di Desa Padu Banjar

0
177
Pengenalan produk asap cair atau cuka kayu dari Manggala Agni DAOPS Ketapang.

Rkufm.com – Yayasan Palung mengadakan pelatihan dan peningkatan kapasitas bagi Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) binaan di Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Asisten field Officer Program Hutan Desa Yayasan Palung, Robi Kasianus mengatakan setidaknya ada tiga kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Palung di LPHD binaan.

“Tiga kegiatan yang dilakukan tersebut antara lain adalah Pelatihan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dan pembuatan pupuk organik padat dan cair, serta teknik memperbanyak herbisida (racun rumput), kata Robi, Jum’at (18/3/22).

Robi menjelaskan, bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang Pelatihan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB).

Baca Juga:   Dinas Perdagangan Kayong Utara: Belum Semua Terapkan Jual Minyak Goreng Sesuai HET

“Untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang PLTB dan pembuatan pupuk organik,” jelasnya.

Dalam kegiatan ini Yayasan Palung bekerjasama dengan DAOPS Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang, Skeretaris Desa, LPHD dan Masyrakat Peduli Api (MPA) dari Desa Padu Banjar dan Pulau Kumbang.

Dalam pelatihan PLTB, kata Robi, Manggala Agni DAOPS Ketapang memperkenalkan produk asap cair atau cuka kayu untuk pembukaan lahan tanpa bakar.

Menurut dia, asap cair merupakan cairan organik yang dihasilkan dari proses kondensasi asap pembakaran biomassa seperti potongan kayu.

“Penebasan lahan, pengumpulan hasil tebasan (potongan kayu), memasukkan potongan kayu ke dalam alat pembuatan cuka kayu, melakukan pembakaran dan melakukan penyulingan dari asap hasil pembakaran,” tutur Robi.

Baca Juga:   Ini Pesan Bupati Citra Usai Lantik Puluhan Pejabat di Lingkungan Pemkab KKU

Sementara, pembuatan pupuk organik menggunakan alat berupa cangkul, terpal dan parang. Sedangkan bahan yang diperlukan yaitu kotoran sapi, arang sekam, bongkol pisang, rumput kering, rumput basah, gula, EM4, dan rebung.

“Proses pembuatan pupuk dilakukan dengan cara mencampur seluruh bahan yang ada. Setelah 7 minggu, bahan organik yang dicampur tadi dapat digunakan sebagai pupuk,” ujar Asbandi selaku pemateri pembuatan pupuk organik dari Yayasan Palung.

Dalam kesempatan itu, dirinya juga mengajak para peserta pelatihan yang hadir untuk membuat pupuk organik cair/Mikroorganisme Lokal (MOL).

“Proses pembuatan MOL tersebut dilakukan dengan memanfaatkan bahan berupa gula pasir dan batang pisang. Batang pisang dipotong hingga menjadi bagian kecil, selanjutnya potongan batang pisang dan gula pasir dengan perbandingan 50:50 dimasukan ke dalam wadah tertutup (toples). setelah 2 minggu kemudian, MOL siap digunakan,” kata Asbandi.

Baca Juga:   Pasar Rakyat Sukadana Akan Segera Difungsikan

Di akhir kegiatan pelatihan, DAOPS Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang menyerahkan satu unit alat pembuat asap cair kepada Edi Rahman selaku Direktur konservasi Yayasan Palung. Selanjutnya alat tersebut diserahkan kepada LPHD Padu Banjar agar dapat digunakan sebagaimana mestinya. (kang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here